Sabtu, 04 Februari 2012

WANITA NERAKA

Rasulullah S.A.W bersabda: Aku melihat ke dalam neraka, maka aku lihat kebanyakan penghuninya kaum wanita, yang demikian itu disebabkan oleh kerana jarang taat kepada Allah dan RasulNya serta suami mereka dan kerana banyak bersolek untuk mempamerkan kecantikan.

Lalu Rasulullah bersabda: "Aku menangis sewaktu aku diisrakkan ke atas langit, aku melihat para wanita umatku tengah disiksa di dalam neraka. Aku melihat 10 macam siksaan bagi kaum wanita, yaitu:

1. Orang perempuan yang digantung dengan rambutnya, adalah kerana dia tidak mahu tutup (melindungkan) rambutnya daripada dilihat oleh lelaki lain.

2. Orang perempuan yang digantung dengan lidahnya, adalah kerana dia suka menyakiti hati suaminya dengan kata-katanya. Rasulullah s.a.w.bersabda: "Seseorang wanita yang menyakiti hati suaminya dengan kata-katanya, maka Allah s.w.t akan melebarkan lidahnya di hari kiamat nanti selebar 70 zira dan akan mengikat di belakang lehernya."
Dari Usman r.a berkata Bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: " Seseorang perempuan yang mengatakan kepada suaminya dengan berkata: 'Aku belum pernah melihat kebaikanmu', maka sesungguhnya Allah s.w.t akan menghapuskan amal kebaikannya selama 70 tahun, walaupun dia berpuasa da n siang hari dan mengerjakan solat pada malam hari."

3. Orang perempuan yang digantung dengan buah dadanya, adalah kerana dia menyusui anak orang lain dengan tidak mendapat izin suaminya.

4. Orang perempuan yang diikat kakinya, adalah kerana dia keluar rumah tanpa mendapat izin suaminya terlebih dahulu dan tidak mandi hadas, bagi membersihkan diri seteleh habis haid atau nifas.

5. Orang perempuan yang makan badannya sendiri adalah kerana berhias untuk dilihat oleh lelaki lain dan mereka yang suka membicarakan keaiban orang lain.

6. Orang perempuan yang memotong-motong buah dadanya sendiri dengan gunting-gunting dari neraka adalah kerana dia memasyhurkan dirinya di kalangan orang ramai, dan mermaksud supaya orang melihat akan tertarik kepadanya sebab perhiasan yang dia pakai.

7. Orang perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya sehingga sampai kepada ubun-ubunnya, dan dibelit dengan beberapa ekor ular dan kalajengking adalah kerana dia itu boleh solat, puasa tetapi dia tidak mahu mengambil wuduk dan dia tidak mahu mengerjakan solat serta tidak mahu mandi junub.

8. Orang perempuan yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya pula seperti keldai adalah kerana dia suka mengadu domba dan sangat suka berdusta.

9. Orang perempuan yang berbentuk seperti anjing, adalah kerana dia itu ahli fitnah dan suka marah kepada suaminya.

10. Dan perempuan yang menyerupai anjing, api masuk ke dalam mulut serta keluar dari duburnya itu adalah perempuan yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya, iri hati, dengki dan tidak taat kepada suaminya.

Inilah azab dan kesengsaraan yang dialami oleh wanita yang telah dilihat oleh Rasulullah s.a.w ketika dibawa ke langit semasa peristiwa Israk dan Mikraj.

WANGI KAKI IBU


KETIKA bibir dan hidungnya menyentuh punggung kaki yang cokelat keriput itu, ia merasakan air matanya menetes. Membasahi permukaan kulit yang kisut. Terguling dari tonjolan otot menuju lingir telapak kaki, sebagian ke sela jemari.

"Aku tahu, bukan kamu yang membunuhnya," bisik serak seorang perempuan tua, yang kedua mata-kaki kanan dan kirinya sedang ia dekap.

Entah siapa yang memberi kabar indah itu ke telinga yang mungkin tak sepenuhnya berfungsi. Atau ada yang langsung membisikkan ke ceruk hatinya? Membuat lelaki itu teringat perjalanan yang sesungguhnya tak panjang, namun dirasakan sangat berlarut-larut. Semata oleh pikiran yang kalang-kabut.

SUBUH retak melahirkan fajar. Takbir menggema di telinga, dari pelbagai surau, yang terletak jauh maupun dekat. Dipantulkan oleh bening embun. Membubung ke awan-gemawan yang parasnya sedang dipulas rona lembayung. Angin reda, membuat pohonan yang belum menjelaskan warna daunnya terdiam tunduk, seperti sabar menanti perintah berikutnya. Di dalam rongga dadanya yang kurus, tampak dari kemejanya yang terasa demikian longgar, ada sebersit ngilu berdesir.

Ia baru saja meninggalkan stasiun Tugu. Dengan langkah bimbang, tak ubahnya selembar daun kering yang terseret angin, ia merasa harus mengenali kembali setiap ruang dan benda yang dilalui. Toko-toko yang berderet memanjang ke Malioboro masih menutup pintu. Atau mungkin hari ini tak akan membuka dagangan, karena tiba Lebaran. Jalan aspal yang memiliki beberapa lubang akibat genangan air, tak berbeda dari kota yang ia tinggalkan. Trotoar dengan warna paving-block yang tak sama antara satu dengan yang lain, tentu lantaran pernah terbongkar di sana-sini. Dan yang terhirup ke dalam paru-parunya adalah udara yang menebarkan aroma tersendiri: sisa malam yang tersangkut dan terlambat sirna.

Ini wajah kota kelahiran, yang pernah memberikan keindahan masa kanak-kanak. Ketika Janti masih berupa jalan tanah berbatu. Ketika Hotel Ambarukmo berdiri paling megah dan bergaya di Jalan Solo. Dan Demangan merupakan pusat jajan dengan bakso, es buah, sate, dan limun berwarna-warni. Lalu ia, dulu sekali, mengendarai sepeda ringkih, selalu menghabiskan hari-hari Ramadan dengan menyewa komik atau membacanya di kios persewaan itu sambil menunggu magrib. Terbayang dalam kenangan: Barda Mandrawata sebagai Si Buta dari Gua Hantu. Pendekar Bambu Kuning. Gundala Putera Petir karya Hasmi dari kota ini. Peni sudah Mati. Ah, Peni! Itu tokoh utama dalam komik roman karya Jan Mintaraga. Tokoh yang sesungguhnya telah mati. Dan seorang perempuan lain telah menyamar sebagai Peni, seolah-olah masih hidup, tak berdaya di atas kursi roda, namun sanggup membongkar kematian Peni yang dilatari ketamakan atas harta warisan...
Dan Peni, seseorang yang seharusnya sangat dicintai, kini juga telah mati. Sejenak jemari tangan kanannya bergetar bagai diserang tremor. Ia menggigil bukan oleh dingin pagi yang mengusap dada kerempengnya. Tapi oleh ingatan yang membuatnya harus pulang ke kota kelahiran.

Matanya memandang ke segala arah. Ia mencari becak. Ada beberapa becak teronggok di ruas jalur lambat Jalan Pangeran Mangkubumi, tapi pemiliknya masih meringkuk dengan sarung lusuh. Ah, apakah mereka tak mendengar suara takbir dari pengeras suara masjid di sana-sini? Ini hari Lebaran. Seharusnya mereka berkumpul dengan istri dan anak di rumah sumpek masing-masing. Atau jika masih bujangan, boleh juga sesekali begadang di surau demi hari yang istimewa ini. Tapi, kadang-kadang, Lebaran memang memberikan ironi kepada sejumlah orang. Ketika seharusnya sebuah hati digenangi kebahagiaan, ada sebagian yang mendapati dirinya tenggelam dalam duka paling dalam. Dia, barangkali, menjadi salah seorang di antara mereka.

Apakah sebaiknya berjalan kaki ke Janti? Tentu akan tiba kesiangan di rumah, yang separo dindingnya masih bertahan dengan papan kayu. Sepanjang perjalanan tentu akan berpapasan dengan rombongan jamaah shalat Ied. Tentu akan banyak mata memandangnya dengan raut muka bertanya-tanya. Siapakah lelaki yang melangkah gontai seperti tanpa tujuan itu? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin terucapkan dari wajah-wajah gembira, yang bersinar oleh cahaya kemenangan Ramadan. Sebuah pertanyaan yang lebih baik sembunyi dalam hati mereka, ketimbang menyinggung perasaan. Ini hari yang akan dipenuhi oleh hati orang-orang sabar, jiwa-jiwa yang memaafkan. Bukan untuk menyimpan tanda tanya.

Maka ia memberanikan diri untuk menggugah seorang tukang becak yang kebetulan sedang menggeliat. Orang itu tampak kaget, serentak mengucek mata, dan memandang langit yang mulai semburat kuning.

"Antarkan aku ke Janti."
Penarik becak itu sedikit termangu. Memandang lurus ke wajah tirus.

"Apakah Sampean merasa mengenalku, Mas?"
Penarik becak itu tergesa menggeleng. Kemudian turun untuk berpindah tempat ke belakang dan mempersilakan calon penumpangnya naik. Udara pagi mengiringi kayuhan yang masih berat oleh beban kantuk. Seperti sebuah pena yang menggaris kertas kosong, becak itu meluncur dalam sunyi. Kesunyian yang sebentar lagi pecah oleh para jamaah dari banyak gang perumahan.

Sepanjang jalan, lelaki di dalam becak itu berpikir: apakah ini keputusan yang benar? Mengunjungi Ibu untuk menyampaikan kegagalan? Ia gemetar bagai demam, dan ingatan tentang sebuah malam jahanam melintas begitu keras di benaknya.

CAHAYA bolam lima belas watt sejenak terhalang bayang, seperti padam seketika. Membuat matanya mendadak terbuka. Menyadari ada seseorang masuk ke dalam kamarnya yang tak pernah dikunci, ia segera bangkit duduk. Waspada.
"Maaf, aku mengganggu. Tapi ini sungguh penting. Aku menemukan Peni!"
"Oh," lelaki tuan rumah itu mengusap matanya. Kata "Peni" terdengar sangat penting di telinganya. Ia meraih gelas di samping tempat tidur dan segera minum air putih yang tersisa.
"Di mana?"
"Maaf, jangan membuatmu kaget. Di sebuah klinik tersembunyi, tempat aborsi."
"Astaghfirullah."
"Apa yang harus aku lakukan?"
Lelaki itu tampak tercenung. Seperti sedang mengumpulkan seluruh kesadaran, mengusir sisa-sisa mimpi berkarat.
"Membawanya kemari," ujarnya dengan suara serak.
Si pembawa berita tampak ragu-ragu.
"Aku kakak kandungnya, Bung! Jadi aku berhak memanggilnya."
"Jika dia tak mau?"
"Paksa!"
"Jika dia ternyata punya suami..."
"Masya Allah, aku masih ingat kata-katamu. Dia kaulihat berganti-ganti lelaki. Kudengar darimu juga, dia pernah digerebek polisi saat pesta shabu-shabu, dan ditebus oleh seseorang..."
Mereka berdua terdiam. Waktu merambat menuju saat makan sahur. Mereka menyadari, suara keras percakapan akan terdengar di bilik kiri dan kanan.
"Mungkin yang terpenting adalah bahwa kamu tahu, dia lari dari rumahku, tapi tidak pulang ke Yogya untuk merawat Ibu yang sudah sepuh. Berbulan-bulan aku mencarinya, tanpa berani menyampaikan secara jujur kepada Ibu. Aku mencarinya!"
"Tapi... dia telah membuatmu terusir dari jamaah di Al-Hidayah, mencoreng namamu sebagai pengurus majelis ta'lim..."
"Itu tidak penting," Lelaki itu menahan napas. Sebersit rasa sedih melintas ngilu. "Adalah dosaku jika sampai Peni terseret ke jurang gelap. Itu sebabnya aku ingin menemuinya dalam bentuk apa pun."
"Baik, aku akan mencobanya."
"Atau...," Lelaki itu tampak berpikir. "Begitu kamu mendapatkannya, teleponlah aku. Biar aku yang mendatanginya."

Sang tamu mengangguk lalu berpamitan. Suara televisi di bilik sebelah menyiarkan fragmen tematik Kampung Lele. Terdengar tawa penghuninya yang tergelitik oleh perdebatan antara Opie, Mali, dan Bolot...

SUASANA begitu tegang saat ia tiba di klinik yang tersembunyi dalam gang. Perempuan dengan rambut masai memaksakan diri bangkit dari pembaringan, menyibak gorden pembatas dan bergegas keluar dari kamar. Langkahnya tertegun di pintu, tangannya memegang erat kusen kayu, menahan rasa sakit entah di mana. Dalam pandangan kabur, ia melihat lelaki yang sangat dikenalnya. Rasa takut membuat kepalanya berkunang-kunang.

Lelaki itu memburunya. Dipeluknya perempuan yang limbung itu, jatuh memberat ke dadanya. Ia melihat matanya terkatup rapat, bulu matanya bergetar. Barangkali darah mengaliri betis, ke lantai, basah dan terasa lengket di telapak kaki yang terlepas dari sandal.

"Peni...," Lelaki itu panik. Lalu tatapannya mengandung nyala marah kepada seorang suster yang menciut ketakutan. "Mana dokternya?!"
Suster itu menggeleng dengan paras seputih kertas.
"Panggil dia! Segera!"
"Dia sudah pergi. Satu jam yang lalu."
"Aku perlu namanya!" Ia memanggil temannya. "Hazri! Tolong catat, juga alamat praktiknya yang lain."

Hazri merobek bungkus rokok, mencabut pulpen dari sakunya, dan memandang penuh tuntutan kepada suster yang merapat ke dinding. Terbata-bata bibir perempuan itu mengucapkan serangkai nama dan alamat.

"Peni, bertahanlah," lelaki itu berbisik di telinga perempuan yang begitu lemas dalam pelukan. Lalu ia kembali meradang. "Suster, kamu pasti tahu cara memanggil ambulans. Di sini ada telepon, kan? Cepat, minta ambulans sekarang!"
Hazri dengan sigap menuju ke meja yang memiliki kabel telepon. Ditelusuri jalur kabel itu dan menemukan pesawat telepon tersembunyi dalam laci. Ia mengangkat gagang telepon, dan ketika yakin ada nada aktif, diberikannya kepada suster. "Panggil ambulans!"
Peni dibaringkan di kursi ruang tunggu yang berjajar tiga. Terkulai tak sadarkan diri. Darah masih mengalir dari sela-sela paha. Mencemaskan. Sekaligus membuat lelaki itu menyesal. Seharusnya ia tak perlu selekas itu datang, sehingga Peni masih punya waktu untuk memulihkan diri.
Rasanya berjam-jam waktu berlalu sampai terdengar sirine ambulans. Dua orang lelaki membawa tempat tidur beroda memasuki gang. Hazri menolong sampai Peni naik ke dalam ambulans. Dan di dalam kabin dilakukan pertolongan pertama, termasuk memasang jarum infus ke punggung tangan Peni. Dari tabung plastik yang tergantung, tetes-tetes cairan mengalir melalui selang mungil.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, lelaki itu tidak bicara apa-apa. Mulutnya hanya mendesahkan doa. Berulang kali Hazri memegang lengannya, mencoba menenteramkan. Sesekali mengucapkan: "Aku berjanji akan mencari dokternya dan melaporkannya kepada polisi."

Ia tertunduk. Jemari tangannya mengusap rambut dan kening Peni. Matanya basah. Hatinya terguncang. Apa yang harus ia katakan kepada ibunya? Saat membawa Peni ke Jakarta, ke rumah kontrakannya, tiga tahun yang lalu, ia berjanji: "Peni memang susah diatur. Di sini dia hanya akan merepotkan Ibu. Biar aku yang mengajarnya. Agar dia tahu bahwa hidup itu berat dan harus dilalui dengan perjuangan. Agar dia bisa mandiri."

Tapi...apa yang kemudian terjadi? Lelaki itu menggeleng sendiri dengan rasa sakit, seolah ribuan duri menusuki setiap permukaan jantungnya. Ia hanya memperoleh kegagalan. Kini seluruh tenaga yang dicurahkan di tempat kerja, di pelabuhan yang panas dan keras, dan sisa waktunya yang dihabiskan untuk mencari keteduhan di lingkungan masjid, seperti sia-sia saja. Kenyataannya ia tak pernah tahu, apa yang dilakukan Peni sehari-hari selain menjadi pegawai administrasi di sebuah pabrik sepatu. Terutama setelah enam bulan yang lalu bersikeras pindah tempat tinggal, berpisah dengannya, demi mendekati tempat kerja. Namun tak berapa lama berita tak pantas itu merebak hingga ke wilayah Al-Hidayah.

Selanjutnya sungguh perih untuk diceritakan. Hanya Hazri, sahabatnya yang masih dapat memahami perasaannya.
Lamunannya membuyar saat ambulans berhenti di teras Unit Gawat Darurat. Semua berjalan lekas, mirip potongan film yang disunting sembarangan. Apa pun yang dia lakukan sekarang, termasuk menandatangani perjanjian penggantian darah dari PMI, seluruhnya demi Peni.

TAPI Peni sudah mati. Tanpa percakapan panjang. Hanya permohonan maaf, juga kepada Ibu yang wajib disampaikan. Inilah amanat yang sedang ia bawa ke kampung halaman.
Ia terisak perlahan. Ditahannya agar tak terdengar. Tapi dadanya penuh oleh benda padat bernama kesedihan. Atau mungkin rasa sesal.
"Bangunlah," meski desis itu tertangkap lemah, sesungguhnya begitu tegar. Hanya seorang ibu yang dapat memadukan antara sakit hati dan kasih sayang dengan nyaris sempurna.
Lelaki yang bersimpuh itu tak bergerak. Sejak keberangkatannya dari Jakarta, ia berharap ada hukuman untuknya. Bukan ucapan yang akan membuatnya merasa bersalah berkepanjangan.
"Kamu telah melakukan sesuai dengan kemampuanmu," perempuan tua itu kembali bicara. Tidak gemetar seperti yang diharapkan. Kesunyian merambat.
Sesungguhnya hanya tiga tahun dia tak pulang. Sebelumnya, hampir setiap tahun ia mengunjungi Ibu dan adik satu-satunya, sejak ayahnya meninggal. Tapi, tak pernah perasaannya terusik oleh indahnya masa kanak-kanak di kota ini. Kenangan itu kini memanggilnya. Panggilan yang begitu deras. Sederas air matanya.
"Maafkan aku, Ibu," bisiknya tanpa berani mengangkat wajah. Ia merasa amat tenteram di kaki ibunya. Merasa sangat terlindungi dari segala marabahaya. Tercium harum aroma kasih sayang dari kaki ibunya, yang mengalahkan seluruh hawa busuk di luar sana. Dan ia bagai kembali ke masa kanak-kanak.
"Ibu sudah memaafkan kamu sebelum kamu mengetuk pintu. Sekarang kamu ambil air wudlu, dan segera berangkat shalat Ied."
Kedua tangan perempuan tua itu meraih bahu anak lelakinya. Ketika wajah tirus itu tengadah, dilihatnya penuh air mata. Perlahan ia mencium dahi lelaki itu, persis di antara kedua matanya.

TAUSYIAH


Assalamu’alaikum wr.wb

Subhanallah, walhamdulillah, walaailaahailallah, wallahuakbar.

Semoga Allah SWT mengkaruniakan kepada kita semua keterampilan mengendalikan diri. Tidak ada yang bahaya dalam hidup ini, selain sikap kita sendiri. Karena ternyata bahaya besar dalam hidup ini ialah ketika kita tidak berhasil mengendalikan diri kita dengan baik. Salah satu ciri orang bahagia dan bertaqwa ialah yang paling terampil mengendalikan dirinya dengan cepat. Sehingga dapat melalui rintangan yang ada. Kita bisa melatih diri selama ramdhan. Yang pertama ialah pikiran, pikiran akan membuat suasana hati. Kalau kita berpikir seseorang akan mengancam diri kita, maka pikiran kita akan langsung merasa tidak nyaman. Kita sering tidak nyaman dalam hidup karena pikiran kita tefokus pada hal-hal yang negatif dan mengakibatkan kita menjadi menderita. Seharusnya bagaimana sikap kita menyikapi hal ini? Seharusnya bulan ramadhan bulan latihan untuk berpikir positif. Kalau pikiran kita hanya tertuju kepada makhluk,maka akan gelisah. Namun bila pikiran kita tertuju kepada pencipta makhluk yakni Allah SWT maka insyaallah tidak akan gelisah. Semakin lambat mengalihkan pikiran kita kpd Allah, semakin gelisah. Semakin cepat mengalihkan pikiran kita kpd Allah,maka akan tentram. ”Alaabidzikrillahi tatma’innulquluub”. Melihat kekurangan orang lain,akan jengkel. Melihat kelebihan orang lain, akan tenang. Mari kita mencari seribu satu alasan untuk memaafkan orang lain. Kendalikan pikiran,mencari hikmhah,berdzikir, mencari Allah SWT insyaallah tentram. Kita sering melihat lukisan kuda,dan kita terpesona kpd yang melukisnya. Kenapa me;ihat kuda yang nyata,kita tidak memuji Sang Maha Pencipta-Nya? Kita melihat adik kita memainkan boneka, dan kita memuji pabrik bonekanya. Kenapa melihat bayi memainkan boneka, kita tidak memuji yang Maha Pencipta?

Setiap kejadian terjadi atas izin dan kehendak Allah SWT. Setiap kejadian yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kita jangan tefokus kpd makhluk, fokuslah kpd yang Maha Menciptakan makhluk. Selamat menikmati mengolah pikiran,kalau kita tidak terampil mengelolah pikiran, cirri yang paling khas adalah gelisah. Apakah kita tidak boleh gelisah? Jawabnya Harus, tetapi gelisahnya bukan karena urusan dunia, melainkan urusan akhirat. Sebagai contoh : takut kalau shalat kita tidak di terima,amal yang tidak ikhlas, takut di yaumal hisab tidak husnul khotimah. Yang kedua, latihan mengendalikan keinginan. Kesengsaraan itu karena diprbudak oleh keinginan. Yang bagus ialah menginginkan sesuatu yang di sukai oleh Allah SWT.Untuk keinginan dunia, memperbanyak do’a dan memohon petunjuk yang terbaik dalam pandangan Allah SWT. Apapun yang kita inginkan,syaratnya ialah : 1. Allah SWT suka atau tidak dengan keinginan kita. 2. Istiharoh, memohon pentunjuk dan bimbingan dari Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT “…………… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ai amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS.2 : 216 ).

Keinginan timbul dari pandangan, cobalah untuk menahan pandangan dari yang tidak membawa manfaat. Kalau kita ingin membeli sesuatu, pertanyaannya adalah, bukan ingi atau tidak? Tetapi kita perlu atau tidak? Karena keinginan tidak akan pernah habisnya. Rasullah SAW menggambar sebuah kotak dan di dalamnya di gambarkan ditengah kotak tersebut sebuah garis lurus yang mlewatikotak tersebut,apa artinya? Kotak tersebut diartikan sbg umur, sedangkan garis lurus dalam kotak tersebut digambarkan sebagai keinginan.Yang ketiga, mengendalikan amarah. Mengapa kita marah, prinsip dasarnya ketidaksiapan mental menerima yang tidak sesuai dengan keinginan dan dan harapan kita. Kalau kita marah, kepentingannya nafsu dan dan cenderung menyakiti orang lain. Sedangkan kalau kita tegas, kepentingannya adalah adil. Maka berlakulah adil, karena adil dekat dengan taqwa. Sebagai analogi, kalau kita marah bagaikan menancapkan paku ke didinding. Semakin kita marah, semakin banyak paku yang menancap kedinding. Lisan kita seperti paku yang ditancapkan kedinding atau hati orang yang kita sakiti. Seandainya kita meminta maaf kepada orang yang kita sakiti itu, maka paku akan terlepas dari dinding, namun kita akan meninggalkan bekas lubang paku didinding. Yang ke empat mengendalikan lisan, sebagaimana “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik2, atau diam” (HR Bukhari Muslim). Mari kita jaga lisan kita dari perkataan yang sia2 yang tidak membawa manfaat. Setiap perkataan yang kita ucapkan bagaikan anak panah yang kita lepaskan melesat dari busurnya, apabila sudah lepas, maka tidak dapat kita tarik kembali. Oleh karena itu alangkah lebih baik bila setiap perkataan yang akan kita ucapkan hendaknya dipikirkan terlebih dahulu. Semoga kita bisa belajar untuk tidah mudah menyinggung perasaan orang lain dan tidah mudah tersinggung oleh perkataan orang lain. Karena tidah setiap yang ingin kita katakana, harus kita katakan.

Ada ampat criteria orang berbicara:

a. Orang yag berjiwa besar, yang jika berbicara ada 3 hal yang didapat, yakni mendapatkan tambahan ilmu, mencari/mendapatkan hikmah dari suatu kejadian, dan berdzikir mengingat Allah SWT.

b. Orang yang biasa2 saja, mempunyai ciri suka menceritakan peristiwa atau kejadian itu saja.

c. Orang rendahan, yang mempunyai cirri suka mengeluh dan mencela kejadian yang ada.

d. Orang yang dangkal, orang yang senang membicarakan dirinya sendiri dengan tujuan pamer.

 
Published By SENI BUDAYA