Sabtu, 04 Februari 2012

SYEKH SITI JENAR


NAMANYA MELARISKAN BUKU

Siapakah Syekh Siti Jenar? Meskipun setidaknya Intisari telah menjejaki - yang disebut sebagai - dua kuburan Syekh Siti Jenar, masing-masing di Kemlaten, Cirebon maupun Gedong Ombo, Tuban, agaknya Syekh Siti Jenar tidak bisa dipastikan keberadaan historisnya secara ilmiah dalam kategori positivistik. Keberadaan Syekh Siti Jenar adalah keberadaan sebuah makna, baik dalam bentuk suatu ajaran yang tercatat pada berbagai naskah, maupun makna keberadaan dalam penafsiran politis, sebagai tokoh oposisi terhadap hegemoni kekuasaan rohani para wali. Suatu konstelasi yang sebetulnya juga merupakan tipologi konstelasi politik duniawi, ketika kerajaan-kerajaan Islam di Jawa telah menjadi dominan, tetapi pusat-pusat kekuasaan pra-Islam dengan segenap aliran kepercayaannya, belum sepenuhnya terleburkan - bahkan sampai hari ini.

Wali yang mencemaskan
Dalam ziarah pustaka ini, gambaran Nancy K. Florida tentang Tiga Guru Jawa (Syekh Siti Jenar, Syekh Malang Sumirang, Ki Ageng Pengging) dalam disertasinya, Menyurat Yang Silam Menggurat Yang Menjelang (1995) akan dikutip sebagai pengantar:
“Di antara ketiga empu tersebut, Syekh Siti Jenarlah yang paling dikenal, dengan ketenarannya sebagai wali pembangkang yang paling utama di Jawa bahkan hingga saat ini. Berbagai versi kisahnya, baik lisan maupun tulisan, melimpah. Dialah tokoh yang mewakili penyebarluasan, dan yang disebarluaskannya adalah pengetahuan esoteris eksklusif yang keluar dari kalangan elite politik-spiritual ke dalam budaya khalayak ramai. Atas penyebarluasan inilah maka para wali merasa terpanggil untuk memusnahkan Syekh Siti Jenar. Mereka melihat ancaman politik yang benar-benar nyata dalam dirinya; lantaran sebagai sosok penyebarluasan dan populisme dia dengan sendirinya menentang pemusatan dan penyatuan kekuasaan.
“Dalam benak khalayak ramai, Siti Jenar dikenang sebagai patron wong cilik. Garis besar kisah hidupnya menggarisbawahi keterkaitan organisnya dengan lapis terendah masyarakat. Dalam versi kisahnya yang paling tersebar luas, Siti Jenar diceritakan sebagai seekor cacing tanah yang secara ajaib berubah menjadi manusia. Pengubahan ini terjadi karena sang cacing secara kebetulan menerima pengetahuan esoteris yang mengantarnya menuju Hakikat Sejati. Sekali menjadi manusia, dia yang semula cacing ini kemudian berani untuk membuka tabir Pengetahuan Makrifat ini kepada khalayak ramai. Barangkali anggapan bahwa penyampaian pengetahuan semacam itu akan dapat mengubah martabat “cacing-cacing” yang lain adalah kecemasan elite spiritual-politik di ibu negeri Demak.
“Selain dosanya ‘menyingkap sang Rahasia’ kepada khalayak ramai, Siti Jenar juga dipersalahkan karena menyepelekan syariat, hukum suci Islam. Dan di dalam banyak penuturan kisahnya, dia dituduh sebagai orang yang mengaku dirinya Allah. Bagaimanapun juga, yang paling mencuat dan diberitakan adalah dosanya menyebarluaskan Ilmu Gaib; dan lantaran dosa inilah sang wali diadili dan dijatuhi hukuman mati. Terdapat berbagai versi tentang ‘pengadilan’ dan eksekusinya. Masing-masing versi perlu untuk dipahami dengan latar belakang ingatan kolektif masyarakat tentang kisahnya dan dalam bandingan dengan versi lainnya. Yang terpenting untuk diperhatikan adalah keragaman kisah atas apa yang terjadi dengan jasad sang wali; berkisar dari ekstrem yang satu bahwa jasadnya berubah menjadi bangkai busuk seekor anjing hingga ke ekstrem yang lain (yakni pada versi Babad Jaka Tingkir) bahwa sang wali akhirnya mikraj ke surga.”
Adapun asal nama Kemlaten, kuburan Syekh Siti Jenar di Cirebon, terasalkan dari kisah dalam Babad Cerbon, bahwa ketika para wali membongkar kuburan Siti Jenar setelah dihukum mati, untuk membuktikan kebenaran ajarannya: bahwa jika ia mati di dunia ini artinya hidup abadi di dunia yang sebenarnya -ternyata memang tak menemukan jasad, melainkan sekuntum bunga melati. Seperti juga telah sering ditemukan dalam riwayat wali yang sembilan, istilah “politik dongeng” menegaskan terdapatnya kepentingan ideologis di balik segenap “sejarah” tersebut. Kesadaran tentang perlu diabaikannya keberadaan dongeng-dongeng tersebut sebagai fakta historis, juga tersurat dalam catatan sejarawan Graaf dan Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1974), seperti ketika memberi catatan atas keberadaan Dewan Walisanga:
“Sudah jelas bahwa Musyawarat orang-orang suci menurut cerita legenda ini, yang dihadiri oleh mereka semua, sukar kiranya dapat sungguh-sungguh terjadi. Dugaan ini wajar, karena antara kedua tokoh historis Sunan Ngampel Denta dan Sunan Kudus terdapat jarak waktu beberapa generasi (dari pertengahan abad ke-15 sampai dekade-dekade pertama abad ke-16).”

Ajaran tentang ada
Lantas, ajaran macam apa sebetulnya, yang dianggap “benar tapi berbahaya”, sehingga penyebarnya begitu patut menerima hukuman mati dalam pandangan Walisanga? Dalam kenyataannya, buku-buku yang memuat dan menyebarkan teks yang disebut sebagai “ajaran” Syekh Siti Jenar ini beredar luas pada masa kini, beberapa di antaranya bahkan berpredikat best seller alias laris manis tanjung kimpul, yang bukan hanya tidak mengundang kecaman apa pun dari para pemeluk teguh syariat, melainkan justru ditulis oleh para ahli agama itu sendiri. Untuk menyebut beberapa, bisa diperiksa dua buku laris Abdul Munir Mulkhan, Syekh Siti Jenar: Pergumulan Islam-Jawa (1999) dan Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar (2001), Muhammad Sholikhin, Sufisme Syekh Siti Jenar: Kajian Kitab Serat dan Suluk Siti Jenar (2004), Sudirman Tebba, Syaikh Siti Jenar: Pengaruh Tasawuf Al-Hallaj di Jawa (2003), dan yang ditulis dengan sapaan hangat serta indah karya Achmad Chodjim, Syekh Siti Jenar: Makna “Kematian” (2002). Namun untuk mengintip apa yang disebut “ajaran rahasia” tersebut, pustaka yang akan diziarahi masih dari karya ilmiah P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa (1935).
Tidak mungkin memindahkan ulasan panjang lebar dalam disertasi Zoetmulder tersebut, tapi kita mulai saja dengan petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.
Dalam disertasi filsafat ini Zoetmulder menekankan, bahwa dengan teks semacam ini Syekh Siti Jenar dan murid-muridnya telah ditafsirkan memberi kesan seolah-olah Tuhan itu tidak ada, padahal, “Menurut hemat kami ucapan-ucapan serupa hendaknya ditafsirkan sebagai sebuah polemik serta penolakan terhadap ide mengenai seorang Tuhan yang berpribadi; sebaliknya Siti Jenar mengetengahkan ide mengenai suatu Jiwa Semesta, ia manunggal dengan Hyang Suksma, manunggal dengan hidup yang tunggal, yakni dirinya sendiri.”


Bukan Al-Hallaj, tapi India
Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-Husain ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj sahaja, sufi Persia abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar, karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, “Akulah Kenyataan Tertinggi,” yang menjadi alasan bagi hukuman matinya pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut. Tepatnya persona Syekh Siti Jenar memang dihidupkan untuk dimatikan.
Namun karena penelitiannya tentang segenap pengaruh terhadap sastra suluk Jawa, Zoetmulder berpendapat lain tentang ajaran Syekh Siti Jenar. “Jelaslah betapa besar pengaruh dari ide-ide India. Pengaruh itu tampak juga dari sikap terhadap nilai dan kenyataan dunia, yang dianggap hanya suatu permainan pancaindera, sebuah impian, segalanya hanya bersifat semu dan tak ada sesuatu yang nyata, suatu godaan, sebuah sulapan yang menimbulkan keinginan manusia dan dengan demikian mengurungnya. Singkatnya, di mana-mana kita mengenal kembali pandangan dari India.
“Akhirnya, juga kematian Siti Jenar - menurut logatnya sendiri, masuknya ke dalam kehidupan -seperti dilukiskan dalam versi yang kami bahas di sini, bernafaskan suasana India. Dengan menutup sendiri semua pintu dengan dunia luar ia membiarkan nafas kehidupan keluar dari badannya yang lalu mempersatukan diri dengan Suksma semesta. Dalam segala uraian ini hanya sedikit sekali pengaruh dari dunia Islam, sekalipun kadang-kadang disebut sebuah kutipan dalam bahasa Arab sekadar bahan pendukung. Sebaliknya menonjol sekali, betapa ajaran ini serasi dengan suatu bagian dari Arjunawiwaha yang melukiskan bagaimana Bhatara Indra dalam wujud seorang resi tua menyampaikan ajaran kesempurnaan kepada Arjuna yang sedang bertapa.
“Bila akhirnya tokoh Siti Jenar kita bandingkan dengan apa yang kita ketahui mengenai Al-Hallaj, maka tampak, bahwa keserasian hanya berkaitan dengan beberapa sifat dari kisah itu, tetapi kesamaan dalam hal ajaran jarang kita jumpai.”
Setelah menguraikan konsep ajaran Al-Hallaj yang dirujuknya dari peneliti sufisme terkenal Louis Massignon, hanya satu hal dianggap Zoetmulder agak mirip, yakni tentang permintaan maaf telah mengungkap rahasia ilahi (ifsa-al-asrar) - itu pun menurutnya Siti Jenar tidak minta maaf. Dijelaskannya, “Tidak mengherankan, bahwa dalam ajaran Siti Jenar tak terdapat bekas-bekas ajaran otentik Al-Hallaj.”
Ia pun merumuskan, “Perbedaan pokok antara kedua tokoh itu ialah Al-Hallaj selalu ditampilkan sebagai seorang sufi yang terbenam dalam cinta akan Tuhan, sedangkan dalam diri Siti Jenar sifat tadi hampir tidak tampak. Siti Jenar terutama dikisahkan sebagai seorang yang mandiri, akal bebas yang tidak menghiraukan raja maupun hukum agama; tak ada sesuatu pun yang menghalanginya menarik kesimpulan dari ajarannya. Dengan demikian ia menjadi wali yang paling digemari rakyat dan yang riwayatnya masih hidup di tengah-tengah orang Jawa.”

Lemah Abang serba pinggiran
Dengan konteks pengaruh India dan bukan Islam da lam ajaran Syekh Siti Jenar, menjadi jelas konteks duniawi yang terpadankan dengannya, seperti teruraikan oleh Graaf dan Pigeaud mengenai kedudukan politis Pengging sebagai kerajaan “kafir” terhadap kekuasaan Demak. Dalam legenda, Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging adalah murid Syekh Siti Jenar yang membangkang dan tidak bersedia tunduk maupun melawan Sultan Demak - yang membuat kedudukannya sulit diatasi meski Sunan Kudus ia izinkan untuk membunuhnya. “Tindakan Sunan Kudus yang sangat terkenal terhadap ’si bid’ah’ Kebo Kenanga itu sesuai dengan ketegasan terhadap penghujah Allah Syekh Lemah Abang (atau Pangeran Siti Jenar) sendiri. Syekh itu adalah guru ilmu kebatinan empat bersaudara: Yang Dipertuan di Pengging, di Tingkir, di Ngerang, dan di Butuh.” Bahwa Pengging sebelumnya disebut-sebut sebagai kerajaan “kafir” yang masih berdiri setelah Majapahit runtuh, jelas menunjukkan personifikasi Syekh Siti Jenar sebagai representasi perlawanan, terhadap dominasi Demak sebagai representasi hegemoni kekuasaan rohani sekaligus duniawi.
Mungkinkah bisa dipahami sekarang, mengapa banyak wilayah di Jawa bernama Lemah Abang, dan selalu terletak di pinggiran?

SERAT SABDO JATI


Megatruh
1. Hawya pegat ngudiya ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.
3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.
4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.
7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.
8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon
Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos
Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.
14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong
Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.
15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon
Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon
Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.
17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon
Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.
18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon
Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti
Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).
seratanipoen Raden Ngabehi Ronggowarsito

RAJA LANGIT, RAJA BUMI, & PUTRI BULAN


Kisah dari Sulawesi Selatan

Kisah ini mengajarkan dua hal: Pertama, bahwa setiap peperangan yang dikobarkan oleh rasa iri dan benci hanya akan menghancurkan semua yang ada. Kedua, peperangan hanya akan meninggalkan rasa sedih yang mendalam, terutama mereka yang ditinggal sanak keluarga akibat perang yang jahat itu. Yang tersisa dari permusuhan hanyalah senandung sedih dan penyesalan.

Dahulu kala ada dua kerajaan yang bermusuhan. Kerajaan Bumi dan Kerajaan Langit namanya. Kerajaan Langit adalah sebuah kerajaan yang makmur. Masyarakatnya hidup dengan aman dan damai tanpa ada kekurangan. Hal inilah yang menerbitkan kecemburuan bagi raja Kerajaan Bumi.

Raja dari Kerajaan Langit punya tiga orang putra laki-laki. Ia ingin sekali mendapatkan seorang anak perempuan. Kerajaan Bumi pun menunggu kelahiran itu, karena menurut ramalan, Kerajaan Langit bisa ditaklukkan apabila dia sudah mempunyai seorang anak perempuan.

Maharaja Langit betul-betul menginginkan seorang putri. Suatu ketika dikumpulkan semua alim ulama, menteri-menteri, penasehat dan hulubalangnya serta seluruh pembesar istana. Baginda meminta pendapat mereka tentang keinginan yang sudah lama terpendam itu.

Seorang cerdik pandai yang bijaksana berjalan menghadap raja. Ia bersujud dan memberi hormat dan berkata. “Ampunkan hamba Tuanku, atas keberanian hamba meramalkan sesuatu tentang Tuanku dan kerajaan ini.”

Ia meminta Raja mengulurkan tangannya untuk dibaca. Keningnya berkerut karena gundah. Melihat itu Raja bertanya. “Ada apa? Apakah kau melihat sesuatu dari tanganku? Apakah aku akan bisa memiliki seorang putri?”

Cerdik pandai itu kembali bersujud dan memberi salam. “Maafkan hamba Baginda. Melihat garis tangan Tuanku, sebentar lagi Tuanku akan memiliki seorang anak perempuan sebagaimana yang sudah lama diidam-idamkan. Tuanku akan memiliki seorang putri yang cantik jelita yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun juga.”

Raja sangat senang mendengarnya. “Lanjutkanlah…,” perintah Raja.
Si cerdik pandai diam sesaat. Wajahnya terlihat kelam.
“Apa lagi yang ingin kau katakan wahai cerdik pandai yang hebat? Katakanlah sekarang juga, di hadapan semua orang agar mereka juga mendengar kebahagiaan apa lagi yang akan aku peroleh.”
“Ampunkan hamba Baginda. Menurut garis tangan yang hamba baca… Ampun beribu ampun Baginda kalau hamba salah. Kelahiran Tuan Putri ini akan membuat petaka bagi kerajaan ini.”
Semua orang terkejut mendengarnya. Juga raja dan permaisurinya.
“Maafkan kalau hamba salah membaca. Suatu ketika nanti keajaan ini akan diserang oleh Kerajaan Bumi dengan kekuatan yang luar biasa hebat. Mereka berniat mencuri Tuan Putri untuk dinikahi. Dan Kerajaan Langit, kerajaan yang kita cintai sepenuh-penuhnya ini akan pula binasa tanpa ampun.”

Raja tercenung mendengarnya. Cerdik pandai tidak bisa meramalkan kapan serangan itu akan terjadi. Raja menjadi bingung. Anak perempuan sudah lama diinginkan dan sebentar lagi akan lahir, tetapi jika ia lahir maka kerajaan ini akan hancur.

Seorang penasehat kemudian memberikan usul. “Kita biarkan Tuan Putri lahir. Kita semua tahu kalau Baginda sudah lama menginginkan seorang anak perempuan. Sambil menunggu kelahiran Tuan Putri kita menyiapkan tempat persembunyian yang paling aman untuknya, sehingga kelak, kalau pun raja dari Kerajaan Bumi berniat menyerang kerajaan ini ia tak bisa menemukan Tuan Putri.”
Raja pun menyetujui usul itu.

Beberapa waktu kemudian permaisuri pun hamil. Putri cantik jelita itu kemudian lahir ke dunia dengan selamat. Seluruh keluarga istana dan seluruh warga menyambutnya sukacita.
Orang-orang merayakan kelahiran itu dengan rasa syukur. Di mana-mana diadakan keramaian. Ada pertandingan dan permainan-permainan, kesenian rakyat pun digelar. Mereka sungguh-sungguh gembira menyambut kelahiran Tuan Putri yang cantik jelita itu.

Raja kemudian menyerahkan sang putri kepada seorang inang terbaik di kerajaan. Setiap waktu luang Baginda akan memanggil inang pengasuh untuk membawa sang putri untuk ditimang-timang. Raja betul-betul memperhatikan perkembangan bayinya itu. Ia amat mencintai putrinya yang tumbuh sehat dan tanpa cacat itu.
Waktu pun berlalu, berangsur-angsur sang putri mulai dewasa. Ketika itulah Baginda Raja teringat akan ramalan cerdik pandainya dulu, bahwa sewaktu-waktu kerajaannya akan diserang oleh Kerajaan Bumi. Ia pun menyampaikan kegelisahannya kepada permaisuri. Tak ada pilihan, Tuan Putri harus diselamatkan. Ia harus disembunyikan di sebuah tempat yang tidak diketahui siapa pun juga. Tempat yang paling aman untuk itu hanyalah Bulan. Tuan Putri akan diungsikan ke Bulan sampai keadaan kembali aman.
Baginda membuatkan sebuah istana yang indah di Bulan untuk didiami sang putri. Pada hari yang ditentukan berangkatlah Tuan Putri menuju Bulan bersama inang pengasuhnya. Keberangkatan itu diiringi tangis sedih penghuni kerajaan.

“Kembalilah ketika keadaan sudah aman anakku...,” bisik permaisuri sambil memeluk putrinya.
Tuan Putri memeluk ayah dan ibunya bergantian. Hatinya sedih sekali berpisah dengan mereka. Tapi bagaimana pun ia harus berangkat. Ia tak ingin keberadaannya akan membuat istana dan seluruh kerajaan celaka. Mengingat itu bertambah-tambahlah kesedihannya.

Sejak saat itu Tuan Putri tinggal di istana kecilnya yang berada di Bulan.
Sementara itu Kerajaan Bumi sedang mempersiapkan sebuah pasukan besar untuk menggempur Kerajaan Langit. Kerajaan Bumi begitu menginginkan Putri Kerajaan Langit dijadikan istri. Ia tidak tahu kalau saat ini Putri Jelita itu berada di tempat persembunyian, yaitu di Istana Bulan yang indah.
Mereka mengadakan olah kanuragan setiap hari. Seluruh perlengkapan perperangan disiapkan. Mereka ingin menghabisi Kerajaan Langit sampai tandas. Mereka sadar Raja Langit tidak akan begitu saja mau menyerahkan putrinya kepada Raja Bumi. Untuk inilah pasukan disiapkan agar tidak ada yang bisa meghalangi keinginan mereka.

Dengan semangat yang menyala-nyala pasukan Kerajaan Bumi mulai mengerahkan seluruh kekuatan yang telah disiapkan dengan matang. Pasukan itu dipimpin langsung Maharaja Kerajaan Bumi. Semula serangan-serangan itu dapat ditahan oleh tentara Kerajaan Langit. Karena pasukan Kerajaan Bumi yang banyak dan peralatan perang yang lengkap, tentara-tentara Kerajaan Langit dapat ditaklukan. Mereka menyerbu masuk ke istana. Begitu mengetahui Tuan Putri sudah tak ada, marahlah Raja Bumi. Istana dihancurkan. Semua keluarga dihabisi. Begitu juga dengan Maharaja Langit dan Permaisuri.

Kekejaman pasukan Kerajaan Bumi tak sampai di situ saja. Bangunan yang ada dihancurkan. Tidak satu pun yang bersisa. Tak seorang pun yang bisa selamat dari serbuan mereka. Kerajan Langit hancur lebur tanpa sisa.
Tuan putri yang mendengar kerajaannya hancur menangis sedih, apalagi ketika dia tahu ayah, ibu, dan seluruh penduduknya dibunuh. Kesedihannya sungguh luar biasa. Ingin rasanya ia membalaskan dendam atas kematian ayahandanya tercinta, tapi apa daya dia hanyalah seorang perempuan dan tidak punya kekuatan apa-apa.
Sejak itu Tuan Putri berubah menjadi pemurung. Setiap hari ia hanya melamun dan mengurung diri di kamarnya sambil membuka pintu jendela. Ia sedih melihat kehancuran kerajaannya. Setiap hari ia termenung sambil melihat Bumi dari kejauhan. Inang pengasuh mencoba menghibur Tuan Putri dengan berbagai cara. Tapi sia-sia belaka. Tuan Putri selalu terkenang akan keluarganya. Ia ingin pulang ke Langit sekadar melepaskan kerinduan pada keluarga dan kerajaannya yang telah musnah. Penghiburannya sekarang hanyalah menatap Kerajaan Bumi yang telah menghancurkan istana ayahandanya.

Suatu kali ia melihat ada sekuntum bunga yang mekar di kejauhan sana. Bunga itu terlihat sangat indah, berkilau-kulauan diterpa cahaya. Tuan Putri ingin sekali memiliki bunga yang berada di Bumi itu, tapi ia takut kalau-kalau Maharaja Kerajaan Bumi mengetahui keberadaannya dan bersegera menculiknya.
Keinginannya makin menjadi-jadi untuk memiliki kembang itu. Suatu kali ia meminta izin kepada inang pengasuh untuk turun ke Bumi dan mengambil bunga itu lalu bersegera kembali ke Bulan.
“Jangan turun ke Bumi, Tuan Putri. Apa jadiya nanti jika raja yang jahat itu mengetahui keberadaan Putri? Mereka tidak akan membiarkan Tuan Putri kembali lagi ke sini,” kata inang pengasuh menasehati.
“Tapi aku menginginkan bunga itu, Bi.”

“Bibi tahu keinginan Tuan Putri. Tetapi alangkah baiknya kalau bunga itu dibiarkan saja tumbuh di sana dan kita bisa melihatnya setiap hari dari sini. Apa yang tampak indah itu tak melulu sama ketika kita menyentuhnya.”
Tuan Putri diam saja. Hatinya ragu dan menimbang-nimbang.

“Bagaimana kalau misalnya itu hanya tipuan dari Maharaja Kerajaan Bumi saja untuk mengundang Tuan Putri keluar dari persembunyian? Satu hal lagi, kita tidak akan bisa kembali lagi ke Bulan ini kalau sudah menjejaki kaki di Bumi, tempat di mana banyak banyak darah ditumpahkan itu. Ingat itu, Tuan Putri. Kamu tidak akan bisa lagi ke sini.”

Tapi Tuan Putri tampaknya bersikukuh dengan pendiriannya dan tak peduli dengan nasihat inang pengasuh. Keinginannya untuk memetik bunga yang terlihat indah itu makin menjadi-jadi. Suatu hari, tanpa sepengetahuan inang pengasuh, Tuan Putri turun ke Bumi untuk mengambil bunga itu.
Tapi alangkah terkejutnya dia begitu mengetahui tak ada bunga di sana. Kelopak-kelopak indah dan mekar yang terlihat dari jauh itu hanyalah ampas tebu yang berserakan. Tiba-tiba sang putri merasa telah masuk ke dalam perangkap Maharaja Bumi. Ia takut sekali dan ingin segera kembali pulang ke istananya di Bulan.
Berkali-kali ia mencoba untuk terbang. Tetapi tubuhnya tak kunjung naik-naik juga. Ia sama sekali tak bisa mengawang. Ia ingat nasehat inang pengasuh bahwa dia tidak akan bisa lagi naik ke Bulan jika sudah menjejakkan kaki di Bumi.

Tuan Putri sedih sekali. Menangislah dia keras-keras. Dia merasa sangat takut, sebab sewaktu-waktu orang-orang akan melihatnya dan menyerahkan kepada Maharaja Kerajaan Bumi.

Tuan Putri kemudian memanjat sebatang pohon, dia berharap dari sana dia akan bisa terbang kembali ke Bulan. Tapi sayang, usahanya tak pernah berhasil. Setiap kali ia mencoba, setiap kali itu pula ia terjatuh. Dengan kesedihan yang bertambah-tambah dan ketakutan yang maha hebat ia terus mencoba dan selalu gagal.
Karena larut dengan kesedihan dan penyesalan yang luar biasa, makin lama tubuhnya semakin kecil. Ia tidak menyadari kalau tubuhnya mulai ditumbuhi sayap. Lama-lama sempurnalah ia menjadi seekor burung.
Maka setiap bulan purnama tiba ia akan selalu berbunyi sambil mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainya. Ia selalu teringat akan istana cantiknya di Bulan sana. Demikian juga dengan inang pengasuh, ia selalu duduk di bawah pohon beringin raksasa sambil menunggu kedatangan Tuan Putri. Setiap purnama tiba akan terlihat bayangannya dari Bumi.

 
Published By SENI BUDAYA